Rabu, 06 Oktober 2010

Nyanyian hati yang tak terjawab

Cinta mengapa engkau tak berpihak pada ku
Cinta kenapa engkau tak mendengar jeritan ku
Cinta kenapa engkau tidak mau mengenal ku

Duhai pujaan ku
Dapatkah aku walau hanya sekali untuk mengenal mu
Merasakan kelembutan setiap teguran sapa mu
Menikmati setiap tawa yang kau miliki

Hati yang tertekan saat ini
Begitu mengiris setiap rasa yang ada pada ku
Hati yang terdiam saat ini
Menghancurkan setiap apa yang ada pada ku

Dapatkah aku menyanyikan sebuah lagu untukmu
Memberikan setiap apa yang aku rasakan
Bersama kita tertawa saat sedih menghampiri kita
Bersama kita menikmati dunia yang fana ini

Ingin ku lukiskan semua rasa ku pada mu
Tapi aku tak mengerti cara
Bagaimana aku dapat merebut dan meluluhkan hatimu
Apakah aku tak pantas untuk mu????

Kamis, 24 Juni 2010

karakteristik pati

Karakteristik Pati
PATI (starch) merupakan zat tepung dari karbohidrat dengan suatu polimer senyawa glukosa yang terdiri dari dua komponen utama, yaitu amilosa dan amilopektin. Polimer linier dari D-glukosa membentuk amilosa dengan ikatan (alfa)-1,4-glukosa. Sedangkan polimer amilopektin adalah terbentuk dari ikatan (alfa)-1,4-glukosida dan membentuk cabang pada ikatan (alfa)-1,6-glukosida.
Amilosa bersifat sangat hidrofilik, karena banyak mengandung gugus hidroksil. Maka, molekul amilosa cenderung membentuk susunan paralel melalui ikatan hidrogen. Kumpulan amilosa dalam air sulit membentuk gel, meski konsentrasinya tinggi. Karena itu, molekul pati tidak mudah larut dalam air. Berbeda dengan amilopektin yang strukturnya bercabang, pati akan mudah mengembang dan membentuk koloid dalam air.
Pati merupakan komponen terbesar yang terdapat pada singkong, beras, sagu, jagung, kentang, talas, dan ubi jalar. Pemanfaatan pati sebagai bahan baku di kalangan industri berupa produk makanan dan obat-obatan. Khusus untuk industri makanan, pati sangat penting untuk pembuatan makanan bayi, kue, pudding, bahan pengental susu, permen jelly, dan pembuatan dekstrin.
Salah satu sifat pati adalah tidak larut dalam air dingin, karena molekulnya berantai lurus atau bercabang tidak berpasangan, sehingga membentuk jaringan yang mempersatukan granula pati. Selain itu, kesulitan dalam penggunaan pati adalah selain pemasakannya memakan waktu yang cukup lama, pasta yang terbentuk juga cukup keras. Karena itu pati tersebut perlu dilakukan modifikasi agar diperoleh sifat-sifat yang cocok untuk aplikasi tertentu. Dengan demikian, pati memiliki kegunaan yang lebih banyak pada industri makanan.

Karakteristik Pati

Bahan
 NaOH 0,005 N, NaOh 4 N, Alkohol 95% netral, Aquades, Larutan Luff, Indicator fenolftalein, HCl 0,4 %, HCl 3%, KI 20%, H2SO4 25%, Tiosulfat 0,1 N
 Indicator jenis pati :
o Tepung beras dan tepung ketan (klp I,II,VII)
o Tepung tapioca dan tepung sagu (klp II,V,VIII,X)
o Tepung jagung dan tepung terigu (klp III,VI,IX)
Alat:
Test plate, kaca objek, pipet tetes, mikroskop, thermometer, cawan aluminium, oven, cawan porselen, tanur, tabung sentrifuge, erlemeyer 250 ml, neraca analitik, autoclave, corong buchner, aspirator, gelas ukur, pipet volumetric, pendingin tegak, kompor listrik, buret, kertas saring.

Cara Kerja:
1. Uji Iod
a) Letakkan sedikit contoh pada test plate
b) Tambahkan beberapa tetes larutan iod, amati perubahan warna yang terbentuk.
2. Bentuk Granula Pati
a) Letakkan sedikit contah pada kaca objek, tambahkan satu tetes air, kemudian tutup dengan cover glass
b) Amati bentuk granula mengunakan mikroskop
c) Gambarkan masing-masing bentuk granula pati dan bvandingkan hasil pengamatan antara satu contoh dengan yang lain.
3. Suhu Gelatinisasi
a) Buat suspensi pati dengan konsentrasi 10 % di dalam gelas piala
b) Letakkan gelas piala diatas pemanas, sambil diaduk naikkan suhu pemanas
c) Amati bentuk suspensi, saat terjadi perubahan menjadi gel ukur suhunya menggunakan thermometer
4. Kadar Air
a) Keringkan cawan aluminium di dalam oven pada suhu 105 oC selama 1 jam, kemudian masukkan cawan ka dalam desikator tunggu dingin dan timbang
b) Timbang pati sebanyak 1-2 gr di dalam cawan yang telah diketahui bobotnya
c) Keringkan di dalam oven pada suhu 105oC selama 3 jam, kemudian masukkan ke dalam desikator, tunggu sampai dingin dan timbang
d) Panaskan kembali di dalam oven selama 15 menit, lakukan penimbangan ulang, lakukan pemanasan ulang jika masih terjadi perubahan bobot, apabila bobotnya sudah tetap pemanasan tidak dilanjutkan

Bobot contoh – bobot setelah kering
Kadar air = x 100 %
Bobot contoh
5. Kadar Abu
a) Timbang contoh sebanyak 2-3 gram di dalam cawan yang telah diketahui bobot tetapnya.
b) Arangkan menggunakan kompor listrik diruang asam sampai contoh tidak berasap
c) Pijatkan tanur dengan suhu 550-600 oC selam 1 jam
d) Dinginkan di dalam desikator dan timbang

Bobot endapan
Kadar abu = x 100 %
Bobot contoh
6. Kadar Serat Kasar
a) Ambil 5 gr masing-masing tepung dan masukkan ke dalam erlemeyer 300 ml
b) Tambahkan 100 mnl HCl 0,4 % dan kocok
c) Didihkan suspensi tersebut selam 2 jam dengan api kecil pada pendingin tegak
d) Saring suspensi yang telah direfluks dalam keadaan panas dengang menggunakan kertas saring
e) Cuci kertas saring yang digunakan untuk menyaring dengan air panas beberapa kali
f) Keringkan endapan yang terdapat pada kertas saring dalam oven bersuhu 105 o C samapai bobot konstan
Bobot endapan
Kadar serat kasar = x 100%
Bobot contoh
7. Nisbah Penyerapan Air (NPA)
a) Masukkan 3 gr masing-masing contoh ke dalam tabung sentrifuse, kemudian tambahkan 30 ml air sambil dikocok selama 30 menit
b) Lakukan sentrifugasi terhadap contoh tersebut pada kecepatan 2000 rpm selama 20 menit
Bobot air yang terserap
NPA = x 100%
Bobot contoh
8. Derajat Asam
a) 5 gr contoh dimasukkan ke dalam erlemeyer dan tambahkan 50 ml alkohol 95% dan dikocok sampai rata
b) Ambil 25 ml cairan dan lakukan titrasi dengan NaOH 0,05 N dengan menggunakan indicator fenolflatein. Derajat keasaman dinyatakan sebagai banyaknya ml NaOH 1N yangt diperlukan untuk titrsi 100 g contoh
9. Kadar Pati
a) 1 gr contoh dimasukkan kedalam erelemeyer 500 ml, kemudian tambahkan 200 ml HCl 3 % dan batu didih
b) Lakukan dihidrolisis pada pendingin tegak selam 3 jam
c) Dinginkan dan netralkan dengan NaOH 4 N
d) Masukkan suspensi pati kedalam labu ukur 250 ml dan tambahkan air suling sampai tanda tera kemudian saring dengan kertas saring
e) Masukkan 10 ml filtrate yang diperoleh ke dalam erlemeyer 300 ml dan tambahkan 25 ml larutan Luff dan batu didih
f) Didihkan selama 10 menit pada pendingin tegak
g) Segera dinginkan dibawah saluran air
h) Tambahkan 20 ml larutan KI 20% dan 25 ml larutan H2SO4 25 % secara perlahan-lahan
i) Titrasi dengan tiosulfat 0,1 N dengan indikator kanji
j) Buat blanko yaitu 25 ml larutan Luff ditambahkan 25 ml air distilata
0,90 x pengenceran x mg monosakarida
Kadar pati = x 100%
Bobot contoh awal (mg)









Pengawetan nira
Nira
Nira adalah cairan yang keluar dari bunga kelapa atau pohon penghasil nira lain seperti aren, siwalan dan lontar yang disadap. Cairan ini merupakan bahan baku untuk pembuatan gula. Nira sering juga disebut lege kata ini sebenarnya istilah bahasa jawa berasal dari kata legi arti nya manis. Dalam keadaan segar niraa memepunyai rasa manis berbau haarum dan tidak berwarna. Selain itu bahan baku pembutan gula, nira dapat pula digunakan sebagai bahan makanan lain yaitu minuman keras tuak, asam cuka dsan minuman segar.
Enau (Aren)
Aren atau enau (Arangapinnata) termasuk jenis palma. Pohon aren yang dimanfaatkan oleh petani umumnya pohon aren tumbuh secara liar di hutan-hutan, tanpa upaya pembudidayaan. Dikarenakan pohon ini memiliki akar yang menjalar yang menghambat dan merusak pertumbuhan tanaman lain disamping itu dalam membudidayakan tanaman ini adalah lamanya waktu perkecambahan biji, akibat kulitnya yang keras dan tebal.
Tanaman aren merupakan pohon serba guna karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan untuk berbagal keperluan. Akarnya dapat digtunakan sebagai pembuat cambuk dan anyaman; belahan batangnya untuk saluran air, wuwungan atap, tongkat, atau galar-galar.
Umbutnya enak dimakan sebagai sayuran; lidi untuk sapu dan keranjang; daun muda untuk pembungkus rokok; ijuk untuk tali, sapu, atap dan sikat; empulur batangnya dapat diolah menjadi sagu. Niranya dapat diolah menjadi gula merah, tuak dan cuka; sedangkan bijinya dapat diolah menjadi kolang-kaling yang lezat.
Walaupun sama-sama dapat menghasilkan sagu, tanaman aren berbeda dengan tanaman sagu. Tanaman sagu membentuk rumpun, sedangkan arena tidak. Aren mempunyai banyak ijuk hitam yang menutupi seluruh batangnya, sedangkan pada sagu hanya di pinggiran pelepah daunnya.
Tanaman aren termasuk berumah satu, yaitu memiliki bunga betina dan bunga jantan dalam satu pohon yang sama.Bunga aren merupakan monocious-unisexual, artinya bunga jantan dan bunga betinanya terpisah pada masing-masing tandan, dengan rangkaian bunga yang menggantung.
Bunga aren tumbuh secara basifetal, yaitu bunga yang paling awal tumbuh (paling tua) akan terletak di dekat batang. Bunga yang lebih muda akan tumbuh pada ruas berikutnya menuju ke arch ujung bawah. Bunga jantan biasanya dimanfaatkan sebagai sumber nira (amok pembuatan gala merah), sedangkan bunga betina dibiarkan tumbuh terus menjadi buah. Dan buah inilah nantinya diperoleh kolang-kaling.
Buah aren dalam jumlah banyak bergantung pada tandan yang bercabang dengan panjang sekitar 90 cm Dalam satu pohon bisa terdapat 4 sampai 5 tandan buah, masing-masing dapat mencapai berat sekitar 100 kg. Buah aren berbentuk segitiga atau bulat lonjong. Kulit buah ketika masih muda berwarna hijau tua atau hijau kebiruan. Saat tua berwarna kuning atau kuning kecokelatan. Daging buah berwarna kuning keputihan dan lunak, dapat menimbulkan rasa gatal jika mengenai kulit karena mengandung kristal kalsium oksalat yang berbentuk janzm.
Di dalam daging buah terdapat biji berukuran cukup besar, kenyal, dan berwarna putih. Biji yang masih muda menyerupai tulang rawan, kemudian berubah menjadi berwarna abu-abu putih dan mengeras setelah tua. Pada setiap buah aren, umumnya terdapat tiga buah biji dengan ukuran panjang antara 2,5 - 3,5 cm dan lebar 2,0 - 2,5 cm
Dalam proses penyadapa nira ini perlu penanganan baaik sebelum penyadapaan maupun sesudaah penyadapaan. haalk ininkearena niraa merupakan cairan yang mengandung kadar gula tertentu daan merupakan media yanfg baaik untuk pertumbuhan mikroorgani\sme seperti bakteri, kapang, maaupun khamir. Walaupun cairan yang kel,uar dari bung steril, namun kereusakan nira dapat terjadi sejaakn saat dimulai nyaa nira tersebut ditampung pada bumbung aataau pada waaktu nira tersebut disadap dari pohon dan pada waktuniraa disimpan untuk menunggu waktu pengolahan.
Nira aren diperoleh dengan penyadapan tangkai bunganya dapat dimulai dapat diserap pada umur 5- 12 tahun. Tiap tanaman dapt disadap selama 3 tahun dan tiap tahun dapat disadap 3 – 4 tangkai bunga. Hasil niranya 300 – 400 liter pe musim tangkai bunga (3-4 bulan ) aatau 900- 1600 liter nira per tahun. Dalam sehari dapat disadap 2 kali dengan menghaasilkan 3- 10 liter nira (goutraa et aal, 1985)


Pengawetan nira
Bahan:
 Nira tebu atau nira aren, Bahan pengawet NaHSO3 , CaO, Na2S2O3
 HCl 30 %, larutan Luff, Aquades, KI 20%, H2SO4 26,5 %, Na-thiosulfat 0,1N, Indicator pati

Alat:
pH meter atau kertas PH, abe-refraktometer, 6 buah botol yang berukuran 100 ml, tissue dan label, erlemeyer, pendingin balik.

Cara Kerja:
a. Nira dimasukkan sekitar 100 ml ke dalam 6 buah botol yang berukuran 100 ml dan ditambahkan dengan bahan pengawet CaO sebanyak 0,005%
b. 3 botol disimpan pada suhu ruang dan 3 botol lainnya disimpan dalam refrigerator
c. Lakukan pengamatan pada hari ke 0,2,4,dan 7 hari, terhadap pH, indeks bias, kadar gula, warna, rasa dan aroma






Pati termodifikasi
Berkembangnya ilmu pengetahuan tentang struktur molekul pati, menyebabkan para ahli melakukan modifikasi struktur alami pati. Modifikasi pati agar dapat memenuhi persyaratan dalam menghasilkan produk makanan tertentu. Untuk memperoleh karakteristik pati yang diinginkan, maka perlu dilakukan modifikasi pada sifat-sifat rheologi.
Modifikasi ini dapat dilakukan dengan cross linking, konversi dengan hidrolisis asam, cara oksidasi dan derivatisasi kimia. Salah satu termodifikasi terhadap sifat-sifat rheologi pati yang pertama kali adalah modifikasi hidrolisis asam. Cara ini dilakukan suspensi pati dalam air, dipanaskan di bawah suhu gelatinisasi.
Suhu awal gelatinisasi adalah saat terjadinya peningkatan viskositas, yaitu terjadinya pembekakan granula pati. Sewaktu suhu dinaikkan, suspensi pati dihidrolisis dengan penambahan asam encer. Selama pemanasan granula pati akan mengembang, semakin meningkat suhu pemanasan pengembangan granula semakin besar.
Pada proses pengembangan granula akan terjadi penekanan antargranula, sehingga viskositas pati akan naik. Hidrolisis dihentikan setelah dicapai kekentalan yang diinginkan. Pati yang tertermodifikasi asam dibuat dengan mengontrol hidrolisis pati dengan asam dalam suatu suspensi. Konversi berlangsung pada suhu 50 derajat Celsius di bawah suhu gelatinisasi pati. Prinsipnya adalah memotong ikatan (alfa)-1,4-glukosida dan (alfa)-1,6-glukosida dari amilopektin, sehingga ukuran pati menjadi lebih kecil dan meningkatkan kecenderungan pasta untuk menjadi gel.
Berdasarkan laporan penelitian, ternyata untuk modifikasi pati kentang dapat dilakukan dengan perendaman dalam asam klorida 7,5% selama 3 hari pada suhu 40 derajat Celsius. Bila dilakukan pada suhu kamar (23 derajat Celsius-29 derajat Celsius), maka digunakan perendaman dengan asam klorida 7% selama seminggu. Jika suhu dinaikkan maka konsentrasi dari asam klorida bisa di rendahkan dan waktu perendamannya bisa dipersingkat.
Pati tertermodifikasi dengan hidrolisa asam klorida menghasilkan pati yang strukturnya lebih renggang, sehingga air lebih mudah menguap pada waktu pengeringan. Struktur pati yang agak rapat akan lebih tinggi daya ikat airnya, selain itu terjadi pemutusan ikatan hidrogen pada rantai linier dan berkurangnya daerah amorf yang mudah dimasuki air.
Penelitian pada pati dari beras dengan modifikasi asam klorida, menunjukkan, kadar air lebih rendah dibandingkan pati yang belum mengalami modifikasi. Kadar abunya cenderung meningkat. Abu merupakan zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik. Kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan. Mineral dalam suatu bahan merupakan garam organik (seperti garam-garam malat, oksalat, asetat, pektat) dan garam anorganik (seperti garam fosfat, karbonat, klorida, sulfat dan nitrat). Sedangkan kandungan protein dan lemaknya adalah cenderung menurun. Protein merupakan sumber asam-asam amino yang mengandung unsur C,H,O dan N yang tidak dimiliki oleh karbohidrat atau lemak. Lemak dalam campuran pati diduga menghambat proses gelatinisasi pati. Sebagian besar lemak diabsorpsi oleh permukaan granula sehingga terbentuk lapisan lipid yang bersifat hidrofobik. Lapisan ini akan menghambat pengikatan air oleh granula pati. Untuk kadar pati yang tidak termodifikasi adalah sekira 71 %, tetapi ketika dilakukan modifikasi asam, kadar pati cenderung meningkat yaitu sekitar 80 %. Jadi hasil dari modifikasi sangat signifikan untuk mendapatkan kadar pati yang lebih tinggi.
Kemampuan daya serap air dari pati termodifikasi adalah lebih tinggi dibandingkan yang tidak termodifikasi. Tingginya daya serap air ini dihubungkan dengan kemampuan produk untuk mempertahankan tingkat kadar air terhadap kelembaban lingkungan dan peranan gugus hidrofilik pada susunan molekulnya. Air akan memasuki daerah amorf dan granula. Penyerapan adalah sekira 20 -25% dari total beratnya. Keadaan ini menyebabkan granula mengembang.
Dunia industri makanan sudah mulai melirik penggunaan pati termodifikasi ini sebagai bahan penolong bagi produk makanan tertentu. Pati termodifikasi berfungsi sebagai bahan pengisi, pengental, pengemulsi dan pemantap bagi makanan. Dengan penambahan pati termodifikasi produk makanan akan mempunyai keunggulan kualitas baik dari penampakan secara fisik, rasa, konsistensi, warna, zat gizi atau pun proses pengolahan yang lebih mudah dan cepat. Salah satu contoh penggunaan pati termodifikasi adalah sebagai bahan pengisi dalam pembuatan permen gum, memberikan sifat produk yang lebih padat.
Ubikayu (Mannihot esculenta)
Singkong atau ubi kayu berasal dari Brazil, Amerika Selatan, yang menyebar ke Asia pada awal abad ke-17 dibawa oleh pedagang Spanyol dari Mexico ke Philipina. Kemudian menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ubikayu merupakan makanan pokok di beberapa negara Afrika. Di samping sebagai bahan makanan, ubikayu juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Ubinya mengandung air sekitar 60%, pati (25-35%), protein, mineral, serat, kalsium, dan fosfat. Ubi kayu merupakan sumber energi yang lebih tinggi dibanding padi, jagung, ubi jalar, dan sorgum.
Ubikayu mengandung HCN yang terdapat di dalam umbi, dan daunnya. Untuk keperluan makanan dan pakan ternak digunakan ubi kayu yang kadar HCN-nya rendah (kurang dari 50 ppm). Sedangkan untuk bahan industri digunakan ubikayu yang berkadar HCN tinggi.
Tepung Tapioka
Tapioka adalah tepung dengan bahan baku ubi kayu atau ketela pohon dan merupakan salah satu bahan untuk keperluan industri makanan, industri farmasi, industri tekstil, industri perekat, dll. Teknologi pembuatan tapioka pada industri kecil adalah sebagai berikut :
- Pengupasan kulit dilakukan dengan tenaga manusia dengan menggunakan pisau
- Pencucian dilakukan dengan cara menyemprotkan air bersih
- Pemarutan dilakukan secara mekanis yang digerakkan dengan mesin diesel. Hasil parutan adalah bubur ketela. Pada tahap ini air ditambahkan agar pemarutan lebih lancar.
- Pemerasan dan penyaringan (pengekstrakan)
Pengekstrakan pati dilakukan dengan tangan manusia, diatas kain kasa. Dari atas dialirkan air sedikit demi sedikit menggunakan gayung yang dikerjakan dengan tenaga manusia. Pengekstrakan dilakukan secara mekanis, yaitu menggunakan saringan bergetar. Saringannya berupa kasa halus. Diatas saringan bergetar tersebut air disemprotkan melalui pipa-pipa. Untuk memberikan tekanan yang tinggi digunakan pompa yang digerakkan dengan mesin diesel.
Pengendapan pati dilakukan di dalam bak-bak pengendapan. Bak pengendapan biasanya terbuat dari kayu, pasangan batu bata yang dilapisi porselin, pasangan batu bata biasa atau beton, bahkan ada bak pengendap yang dasarnya diberi alas kaca atau kayu. Lama pengendapan yang baik adalah empat jam dan pembuangan air tidak boleh lebih dari satu jam, karena setelah lima jam sudah mulai terjadi pembusukan.
Setelah pengendapan dianggap cukup, air yang diatas dibuang sebagai limbah cair dan tepung tapioka basah diambil. Beberapa pengrajin menambah bak pengendap lagi untuk mengendapkan limbah cair sebelum dibuang. Hasil endapannya dinamakan lindur atau elot yaitu pati yang kualitasnya jelek. Cara ini dapat menekan beban pencemaran. Setelah pati diambil, diletakkan pada tampi-tampi bambu, kemudian dijemur di bawah sinar matahari.
Pati hasil pengeringan masih kasar, sehingga perlu digiling dan dilakukan penyaringan untuk menghasilkan tapioka halus. Rendemen pati biasanya berkisar antara 19% - 25%.

Pati termodifikasi
Bahan:
 Berbagai jenis pati (tepung beras, tepung ketan, tepung tapioca, tepung sagu, tepung jegung, tepung gandum)
 Air destilata, NaOH, HCl, Metanol atau etanol.

Alat:
Erlemeyer, pipet, gelas ukur, gelas piala, pH-meter atau kertas PH, penyaring vakum, oven, kertas saring.

Cara Kerja:
1. Thin Boiling Starches ( modifikasi asam )
a) Siapkan suspensi masing-masing jenis apti dengan konsentrasi 40 %
b) Panaskan pada suhu 25-55oC
c) Tambahkan HCL 15% (klp VI = 35 ml)
d) Netralkan dengan larutan soda abu
e) Saring kemudian keringkan di dalam oven
f) Bandingkan hasil modifikasi dari berbagai jenis pati dengan berbagai dosis penambahan HCl (25ml, 30ml, 35ml, 40ml, 45ml)
2. Cold Water Swelling Starches
a) Siapkan suspensi masing-masing jenis pati denga tingkat konsentrasi ( klp VI = 30%)
b) Panaskan suspensi pati tersebut hingga mencapai titik gelatinisasi (menjadi gel semua)
c) Tambahkan pelarut organic (methanol atau etanol) sejumlah sama dengan total suspensi kemudian aduk sampai rata
d) Uapkan dan keringkan dalam oven
e) Bandingkan hasil modifikasi dari berbagai jenis pati dengan berbagai tingkat konsentrasi ( 10,20,30,40,50 persen)









Pengawetan gula semut
Pembuatan gula semut memerlukan nira yang masih baik dan segar sehingga perlu diberiakn perhatian ekstra pada proses penyiapanm penyadapan dan penyadapan nira , agar dihasil kan nira yang baik dan tidak asam. Nira hasil saringan dimasak pada sushu sekitar 110 C di dalam wajan sambil ter8us diaduk. Pada saat nira mulai mendidih, kotoran aakan terapuyng bersama- sama busa ke permukaan. Kotoran dan busa ini harus dihgilangkan dari nira
Untuk menjaga agar busa tidaki meluap ke luar wajan maka sewaktu- waktu diadul dan ditambahkan minyak goreng . dipergunakan minyalk kelapa untuk mengurangi total padatan gula semut yang dihasilkan.
Pemasakan selanjutnya sampai sedikit lebih tua dari yang dugunakan untuk membuat gula cetak. Perekat nira dalam wajan selanjutnya didinginkan lebih kurang 110 menit tanpa diaduk. Setelah itu dilakukan pengadukan dengan pengaduk yang berbentuk garpu secara perlahan lahan dan setelah terjadfi kristalisasi pengadukan dipercepat hingga diperoleh gula yang berbentuk serbuk . gula yang dihasilkan dipendahkan ke wadah laain dan dibiarkan dingin. Aapaabila gulaa semut yang dihasilkan masih basah, maka dapat dilakukan penjemuran dengan sinar matahari untuk mendapatkan gula semut dengan kadar air yang sesuai. Sebaiknya dilakukan pengayakan dan dikemas dalam kantong plastik atau dalam botol gelas.


Pengawetan gula semut
Bahan:
 Nira tebu atau nira aren sebanyak 2 liter/klp
 Minyak kelapa sekitar 5 ml

Alat:
Wajan, saringan/kain saring, timbangan, kompor, pengaduk dari kayu.

Cara Kerja:
a. Nira yang diperoleh dari hasil penyadapan masih mengandung beberapa jenis kotoran, disaring dengan menggunakan kain saring atau saring
b. Nira dipanaskan dengan wajan. Jangan menggunakan api yang terlalau besar tetapi cukup untuk mendidihkan nira
c. Setalah nira mulai mendidih, bila ada buih-buih menggunpal harus diangnkat dengan menggunakan saringan
d. Nira yangn mendidih semakin lama akan menimbulkan buih yang banyak. Tambahkan satu sendaok makan minyak kelapa ataua kalapa parut untuk mencegah terbentukknya buih
e. Lakukan pengujian kemasakan nira. Ambil nira dengan pengaduk, lalu diteteskan secara berputar/ melingkjar ke dalam air, bila diperoleh benang-benang gula yang mudah putus dan keras berarti olahan nira sudah masak.
f. Olahan nira diangkat dari atas api dan dinginkan, sambil diaduk terus-menerus dengan kuat sehingga terbentuk kristal gula semut, berupa butiran-butiran halus
g. Gula semut kasar yang diperoleh, digerus dengan menggunakan alat penggerus pada wajan
h. Setelah dingin lalu diayak sehingga diperoleh gula semut yang cukup seragam

Pengamatan:
Lakukan pengamatan terhadap bahan baku nmira (ph, indeks bias, kadar gula, warna, rasa dan aroma), perubahan selama proses dan produk gula semut (Ph, indeks bias, kadar gula, warna, rasa, dan aroma).



Pembuatan gula merah
Nira mempunyai sifat mudah menjadi asam karena adanya proses fermentasi dari bakteri Saccharomyces sp. Oleh karena itu nira harus segera diolah setelah diambil dari batan pohon. Paling lambat 90 menit s/d 2 jam harus segera dikeluarkan dari bumbung. Pengolahan nira yang termudah yaitu menjadikannya gula merah atau istilah lainnya saka.
Nira dituangkan sambil disaring dengan kasa kawat yang dibuat dari bahan tembaga. Kemudian ditaruh diatas tungku perapian untuk segera dipanasi (direbus). Pemanasan ini berlangsung selama 1-3 jam tergantung dari banyaknya volume nira. Pemanasan tersebut dilakuakn sambil terus melakukan pengadukan. Buih yang terbentuk segera dikeluarklan agar tidak dhasilkan nira dengan warna yang gelap (hitam). Setelah kental kurang lebih 8% dari vol awal pemanasan dihentikan.
Cairan nira yang kental harus segera dicetak karena pabila tidak dicetak cairan tersebut akan dingin secara cepat dan mengeras. Pencetakan dilakukan biasanya dalam tempurung kelapa yang dibelah atau bambu yang telah dibuat dalam ukuran tertentu. Penuangan kepencetak dilekukan dalam dua tahap yaitu pertama 30% dan kedua 70% bagian hal ini dilakuakn agar dihasilkan gula merah yang kompak dantidak mudah pecah ketika sudah mengeras.
Gula merah banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bahan pemanis untuk masakan, makanan atau minuman tradisional seperti dawet, onde-onde, pinyaram, dll. Rasanya yang manis dan warna kecoklatan disukai dan biasa dijadikan warna untuk bahan makanan atau minuman tersebut.
Kandungan gizi gula merah dari nira aren (Nilai per 100 gram porsi makanan)
Air, 4 g
Energi, 368 kcal
Karbohidrat, 95 g
Kalsium, 75 mg
Fosfor, 35 mg
Besi, 3 mg

Pembuatan gula merah
Bahan:
Tebu, dan minyak nabati.

Alat:
Wajan, saringan, kompor, pengaduk dari kayu dan cetakan.

Cara Kerja:
1. Nira yang dihasilkan dari perasan tebu, disaring kemudian ditimbang
2. Masukkan ke dalam wajan dan panaskan untuk menguapkan airnya menggunakan api yang cukup besar, apabila cairan mulai mengental api dikecilkan dan bila berbuih atau meletup-letup tambahakan minyak goring sebanyak 1 sendok makan
3. Lakukan pemasakan nira sampai mengental sambil diaduk-aduk agar tidak hangus atau lengket pada wajan
4. Uji kemasakan nira dengan mengambil nira dengan pengaduk, lalu teteskan nira pada air dingin sambil diputar sehingga membentuk benang melingkar, bila diperoleh benang gula yang keras dan mudah dipatahkan, berarti nira sudah masal
5. Siapkan cetakan dari bambu atau tempurung kelapa yang sudah direndam dalam air
6. Setelah nira matang, wajan diangkat dari api dan nira dituangkan dalam cetakan
7. Setelah gula dalam cetakan mengeras, maka gula dapat dikeluiarkan dari cetakan
Pengamatan :
- nira : Volume, pH, warna, rasa dan aroma
- gula merah : berat gula merah, warna, rasa dan aroma


Pembuatan gula cair
Gula cair meupakan salah atu alternatif dari pengolahan nira (dari tebu, aren atau yang lainnya) yang dapat dilakukan dengan mudah. Pengolahannya sama dengan pengolahan pembuatan gula merah yaitu dengan pemanasan, tetapi tidak dilakukan sampai kental dan mengeras. Pemanasan dilakukan dengan suhu tinggi dan dihentikan sampai kadar gula 20% dari volume awal dan terbentuk sirup bening gelap yang tidak teralu kental.
Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan agar nira yang dipanaskan membentuk gula inversi sehingga keadaan cairnya bisa dipertahankan. Gula cair ini akan tahan lama dan mudah untuk digunakan sabagai pemanis dalam makanan tanpa harus melakukan pengenceran terlebih dahulu.


Pembuatan gula cair
Bahan:
Pati, NaOH 1 N, aranngf aktif dan iod.

Alat:
Erlemeyer, neraca, pipet tetes, autoclove.

Prosedur:
a. Timbang 100 g pati, tambahkan air sebanyak 300 ml,aduk rata
b. Tambahkan hcl 1 n sampai 2 – 2,5 lalu erlemeyer ditutup
c. Hidrolisis dengan autoclave selama 1 jam
d. Uji dengan iod bila pati masih positif, hidrolisis dilanjutkan
e. Bila pati sudah negative, naikkan ph larutanh dengan naoh sampai ph 4,5 – 5,0
f. Masukkan arang aktif sebanyak 1-2% dari bobot pati, lalu dipanaskan pada suhu 80oc selama 1 jam sambil diaduk
g. Saring dengan kertas saring sampai diperoleh larutan jernih
h. Kentalkan sirup di penangas air sampai diperoleh kadar bahan kering 70-80%
i. Hitung rendeman

कराक्तेरिस्तिक pati

Karakteristik Pati
PATI (starch) merupakan zat tepung dari karbohidrat dengan suatu polimer senyawa glukosa yang terdiri dari dua komponen utama, yaitu amilosa dan amilopektin. Polimer linier dari D-glukosa membentuk amilosa dengan ikatan (alfa)-1,4-glukosa. Sedangkan polimer amilopektin adalah terbentuk dari ikatan (alfa)-1,4-glukosida dan membentuk cabang pada ikatan (alfa)-1,6-glukosida.
Amilosa bersifat sangat hidrofilik, karena banyak mengandung gugus hidroksil. Maka, molekul amilosa cenderung membentuk susunan paralel melalui ikatan hidrogen. Kumpulan amilosa dalam air sulit membentuk gel, meski konsentrasinya tinggi. Karena itu, molekul pati tidak mudah larut dalam air. Berbeda dengan amilopektin yang strukturnya bercabang, pati akan mudah mengembang dan membentuk koloid dalam air.
Pati merupakan komponen terbesar yang terdapat pada singkong, beras, sagu, jagung, kentang, talas, dan ubi jalar. Pemanfaatan pati sebagai bahan baku di kalangan industri berupa produk makanan dan obat-obatan. Khusus untuk industri makanan, pati sangat penting untuk pembuatan makanan bayi, kue, pudding, bahan pengental susu, permen jelly, dan pembuatan dekstrin.
Salah satu sifat pati adalah tidak larut dalam air dingin, karena molekulnya berantai lurus atau bercabang tidak berpasangan, sehingga membentuk jaringan yang mempersatukan granula pati. Selain itu, kesulitan dalam penggunaan pati adalah selain pemasakannya memakan waktu yang cukup lama, pasta yang terbentuk juga cukup keras. Karena itu pati tersebut perlu dilakukan modifikasi agar diperoleh sifat-sifat yang cocok untuk aplikasi tertentu. Dengan demikian, pati memiliki kegunaan yang lebih banyak pada industri makanan.

Karakteristik Pati

Bahan
 NaOH 0,005 N, NaOh 4 N, Alkohol 95% netral, Aquades, Larutan Luff, Indicator fenolftalein, HCl 0,4 %, HCl 3%, KI 20%, H2SO4 25%, Tiosulfat 0,1 N
 Indicator jenis pati :
o Tepung beras dan tepung ketan (klp I,II,VII)
o Tepung tapioca dan tepung sagu (klp II,V,VIII,X)
o Tepung jagung dan tepung terigu (klp III,VI,IX)
Alat:
Test plate, kaca objek, pipet tetes, mikroskop, thermometer, cawan aluminium, oven, cawan porselen, tanur, tabung sentrifuge, erlemeyer 250 ml, neraca analitik, autoclave, corong buchner, aspirator, gelas ukur, pipet volumetric, pendingin tegak, kompor listrik, buret, kertas saring.

Cara Kerja:
1. Uji Iod
a) Letakkan sedikit contoh pada test plate
b) Tambahkan beberapa tetes larutan iod, amati perubahan warna yang terbentuk.
2. Bentuk Granula Pati
a) Letakkan sedikit contah pada kaca objek, tambahkan satu tetes air, kemudian tutup dengan cover glass
b) Amati bentuk granula mengunakan mikroskop
c) Gambarkan masing-masing bentuk granula pati dan bvandingkan hasil pengamatan antara satu contoh dengan yang lain.
3. Suhu Gelatinisasi
a) Buat suspensi pati dengan konsentrasi 10 % di dalam gelas piala
b) Letakkan gelas piala diatas pemanas, sambil diaduk naikkan suhu pemanas
c) Amati bentuk suspensi, saat terjadi perubahan menjadi gel ukur suhunya menggunakan thermometer
4. Kadar Air
a) Keringkan cawan aluminium di dalam oven pada suhu 105 oC selama 1 jam, kemudian masukkan cawan ka dalam desikator tunggu dingin dan timbang
b) Timbang pati sebanyak 1-2 gr di dalam cawan yang telah diketahui bobotnya
c) Keringkan di dalam oven pada suhu 105oC selama 3 jam, kemudian masukkan ke dalam desikator, tunggu sampai dingin dan timbang
d) Panaskan kembali di dalam oven selama 15 menit, lakukan penimbangan ulang, lakukan pemanasan ulang jika masih terjadi perubahan bobot, apabila bobotnya sudah tetap pemanasan tidak dilanjutkan

Bobot contoh – bobot setelah kering
Kadar air = x 100 %
Bobot contoh
5. Kadar Abu
a) Timbang contoh sebanyak 2-3 gram di dalam cawan yang telah diketahui bobot tetapnya.
b) Arangkan menggunakan kompor listrik diruang asam sampai contoh tidak berasap
c) Pijatkan tanur dengan suhu 550-600 oC selam 1 jam
d) Dinginkan di dalam desikator dan timbang

Bobot endapan
Kadar abu = x 100 %
Bobot contoh
6. Kadar Serat Kasar
a) Ambil 5 gr masing-masing tepung dan masukkan ke dalam erlemeyer 300 ml
b) Tambahkan 100 mnl HCl 0,4 % dan kocok
c) Didihkan suspensi tersebut selam 2 jam dengan api kecil pada pendingin tegak
d) Saring suspensi yang telah direfluks dalam keadaan panas dengang menggunakan kertas saring
e) Cuci kertas saring yang digunakan untuk menyaring dengan air panas beberapa kali
f) Keringkan endapan yang terdapat pada kertas saring dalam oven bersuhu 105 o C samapai bobot konstan
Bobot endapan
Kadar serat kasar = x 100%
Bobot contoh
7. Nisbah Penyerapan Air (NPA)
a) Masukkan 3 gr masing-masing contoh ke dalam tabung sentrifuse, kemudian tambahkan 30 ml air sambil dikocok selama 30 menit
b) Lakukan sentrifugasi terhadap contoh tersebut pada kecepatan 2000 rpm selama 20 menit
Bobot air yang terserap
NPA = x 100%
Bobot contoh
8. Derajat Asam
a) 5 gr contoh dimasukkan ke dalam erlemeyer dan tambahkan 50 ml alkohol 95% dan dikocok sampai rata
b) Ambil 25 ml cairan dan lakukan titrasi dengan NaOH 0,05 N dengan menggunakan indicator fenolflatein. Derajat keasaman dinyatakan sebagai banyaknya ml NaOH 1N yangt diperlukan untuk titrsi 100 g contoh
9. Kadar Pati
a) 1 gr contoh dimasukkan kedalam erelemeyer 500 ml, kemudian tambahkan 200 ml HCl 3 % dan batu didih
b) Lakukan dihidrolisis pada pendingin tegak selam 3 jam
c) Dinginkan dan netralkan dengan NaOH 4 N
d) Masukkan suspensi pati kedalam labu ukur 250 ml dan tambahkan air suling sampai tanda tera kemudian saring dengan kertas saring
e) Masukkan 10 ml filtrate yang diperoleh ke dalam erlemeyer 300 ml dan tambahkan 25 ml larutan Luff dan batu didih
f) Didihkan selama 10 menit pada pendingin tegak
g) Segera dinginkan dibawah saluran air
h) Tambahkan 20 ml larutan KI 20% dan 25 ml larutan H2SO4 25 % secara perlahan-lahan
i) Titrasi dengan tiosulfat 0,1 N dengan indikator kanji
j) Buat blanko yaitu 25 ml larutan Luff ditambahkan 25 ml air distilata
0,90 x pengenceran x mg monosakarida
Kadar pati = x 100%
Bobot contoh awal (mg)









Pengawetan nira
Nira
Nira adalah cairan yang keluar dari bunga kelapa atau pohon penghasil nira lain seperti aren, siwalan dan lontar yang disadap. Cairan ini merupakan bahan baku untuk pembuatan gula. Nira sering juga disebut lege kata ini sebenarnya istilah bahasa jawa berasal dari kata legi arti nya manis. Dalam keadaan segar niraa memepunyai rasa manis berbau haarum dan tidak berwarna. Selain itu bahan baku pembutan gula, nira dapat pula digunakan sebagai bahan makanan lain yaitu minuman keras tuak, asam cuka dsan minuman segar.
Enau (Aren)
Aren atau enau (Arangapinnata) termasuk jenis palma. Pohon aren yang dimanfaatkan oleh petani umumnya pohon aren tumbuh secara liar di hutan-hutan, tanpa upaya pembudidayaan. Dikarenakan pohon ini memiliki akar yang menjalar yang menghambat dan merusak pertumbuhan tanaman lain disamping itu dalam membudidayakan tanaman ini adalah lamanya waktu perkecambahan biji, akibat kulitnya yang keras dan tebal.
Tanaman aren merupakan pohon serba guna karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan untuk berbagal keperluan. Akarnya dapat digtunakan sebagai pembuat cambuk dan anyaman; belahan batangnya untuk saluran air, wuwungan atap, tongkat, atau galar-galar.
Umbutnya enak dimakan sebagai sayuran; lidi untuk sapu dan keranjang; daun muda untuk pembungkus rokok; ijuk untuk tali, sapu, atap dan sikat; empulur batangnya dapat diolah menjadi sagu. Niranya dapat diolah menjadi gula merah, tuak dan cuka; sedangkan bijinya dapat diolah menjadi kolang-kaling yang lezat.
Walaupun sama-sama dapat menghasilkan sagu, tanaman aren berbeda dengan tanaman sagu. Tanaman sagu membentuk rumpun, sedangkan arena tidak. Aren mempunyai banyak ijuk hitam yang menutupi seluruh batangnya, sedangkan pada sagu hanya di pinggiran pelepah daunnya.
Tanaman aren termasuk berumah satu, yaitu memiliki bunga betina dan bunga jantan dalam satu pohon yang sama.Bunga aren merupakan monocious-unisexual, artinya bunga jantan dan bunga betinanya terpisah pada masing-masing tandan, dengan rangkaian bunga yang menggantung.
Bunga aren tumbuh secara basifetal, yaitu bunga yang paling awal tumbuh (paling tua) akan terletak di dekat batang. Bunga yang lebih muda akan tumbuh pada ruas berikutnya menuju ke arch ujung bawah. Bunga jantan biasanya dimanfaatkan sebagai sumber nira (amok pembuatan gala merah), sedangkan bunga betina dibiarkan tumbuh terus menjadi buah. Dan buah inilah nantinya diperoleh kolang-kaling.
Buah aren dalam jumlah banyak bergantung pada tandan yang bercabang dengan panjang sekitar 90 cm Dalam satu pohon bisa terdapat 4 sampai 5 tandan buah, masing-masing dapat mencapai berat sekitar 100 kg. Buah aren berbentuk segitiga atau bulat lonjong. Kulit buah ketika masih muda berwarna hijau tua atau hijau kebiruan. Saat tua berwarna kuning atau kuning kecokelatan. Daging buah berwarna kuning keputihan dan lunak, dapat menimbulkan rasa gatal jika mengenai kulit karena mengandung kristal kalsium oksalat yang berbentuk janzm.
Di dalam daging buah terdapat biji berukuran cukup besar, kenyal, dan berwarna putih. Biji yang masih muda menyerupai tulang rawan, kemudian berubah menjadi berwarna abu-abu putih dan mengeras setelah tua. Pada setiap buah aren, umumnya terdapat tiga buah biji dengan ukuran panjang antara 2,5 - 3,5 cm dan lebar 2,0 - 2,5 cm
Dalam proses penyadapa nira ini perlu penanganan baaik sebelum penyadapaan maupun sesudaah penyadapaan. haalk ininkearena niraa merupakan cairan yang mengandung kadar gula tertentu daan merupakan media yanfg baaik untuk pertumbuhan mikroorgani\sme seperti bakteri, kapang, maaupun khamir. Walaupun cairan yang kel,uar dari bung steril, namun kereusakan nira dapat terjadi sejaakn saat dimulai nyaa nira tersebut ditampung pada bumbung aataau pada waaktu nira tersebut disadap dari pohon dan pada waktuniraa disimpan untuk menunggu waktu pengolahan.
Nira aren diperoleh dengan penyadapan tangkai bunganya dapat dimulai dapat diserap pada umur 5- 12 tahun. Tiap tanaman dapt disadap selama 3 tahun dan tiap tahun dapat disadap 3 – 4 tangkai bunga. Hasil niranya 300 – 400 liter pe musim tangkai bunga (3-4 bulan ) aatau 900- 1600 liter nira per tahun. Dalam sehari dapat disadap 2 kali dengan menghaasilkan 3- 10 liter nira (goutraa et aal, 1985)


Pengawetan nira
Bahan:
 Nira tebu atau nira aren, Bahan pengawet NaHSO3 , CaO, Na2S2O3
 HCl 30 %, larutan Luff, Aquades, KI 20%, H2SO4 26,5 %, Na-thiosulfat 0,1N, Indicator pati

Alat:
pH meter atau kertas PH, abe-refraktometer, 6 buah botol yang berukuran 100 ml, tissue dan label, erlemeyer, pendingin balik.

Cara Kerja:
a. Nira dimasukkan sekitar 100 ml ke dalam 6 buah botol yang berukuran 100 ml dan ditambahkan dengan bahan pengawet CaO sebanyak 0,005%
b. 3 botol disimpan pada suhu ruang dan 3 botol lainnya disimpan dalam refrigerator
c. Lakukan pengamatan pada hari ke 0,2,4,dan 7 hari, terhadap pH, indeks bias, kadar gula, warna, rasa dan aroma






Pati termodifikasi
Berkembangnya ilmu pengetahuan tentang struktur molekul pati, menyebabkan para ahli melakukan modifikasi struktur alami pati. Modifikasi pati agar dapat memenuhi persyaratan dalam menghasilkan produk makanan tertentu. Untuk memperoleh karakteristik pati yang diinginkan, maka perlu dilakukan modifikasi pada sifat-sifat rheologi.
Modifikasi ini dapat dilakukan dengan cross linking, konversi dengan hidrolisis asam, cara oksidasi dan derivatisasi kimia. Salah satu termodifikasi terhadap sifat-sifat rheologi pati yang pertama kali adalah modifikasi hidrolisis asam. Cara ini dilakukan suspensi pati dalam air, dipanaskan di bawah suhu gelatinisasi.
Suhu awal gelatinisasi adalah saat terjadinya peningkatan viskositas, yaitu terjadinya pembekakan granula pati. Sewaktu suhu dinaikkan, suspensi pati dihidrolisis dengan penambahan asam encer. Selama pemanasan granula pati akan mengembang, semakin meningkat suhu pemanasan pengembangan granula semakin besar.
Pada proses pengembangan granula akan terjadi penekanan antargranula, sehingga viskositas pati akan naik. Hidrolisis dihentikan setelah dicapai kekentalan yang diinginkan. Pati yang tertermodifikasi asam dibuat dengan mengontrol hidrolisis pati dengan asam dalam suatu suspensi. Konversi berlangsung pada suhu 50 derajat Celsius di bawah suhu gelatinisasi pati. Prinsipnya adalah memotong ikatan (alfa)-1,4-glukosida dan (alfa)-1,6-glukosida dari amilopektin, sehingga ukuran pati menjadi lebih kecil dan meningkatkan kecenderungan pasta untuk menjadi gel.
Berdasarkan laporan penelitian, ternyata untuk modifikasi pati kentang dapat dilakukan dengan perendaman dalam asam klorida 7,5% selama 3 hari pada suhu 40 derajat Celsius. Bila dilakukan pada suhu kamar (23 derajat Celsius-29 derajat Celsius), maka digunakan perendaman dengan asam klorida 7% selama seminggu. Jika suhu dinaikkan maka konsentrasi dari asam klorida bisa di rendahkan dan waktu perendamannya bisa dipersingkat.
Pati tertermodifikasi dengan hidrolisa asam klorida menghasilkan pati yang strukturnya lebih renggang, sehingga air lebih mudah menguap pada waktu pengeringan. Struktur pati yang agak rapat akan lebih tinggi daya ikat airnya, selain itu terjadi pemutusan ikatan hidrogen pada rantai linier dan berkurangnya daerah amorf yang mudah dimasuki air.
Penelitian pada pati dari beras dengan modifikasi asam klorida, menunjukkan, kadar air lebih rendah dibandingkan pati yang belum mengalami modifikasi. Kadar abunya cenderung meningkat. Abu merupakan zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik. Kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan. Mineral dalam suatu bahan merupakan garam organik (seperti garam-garam malat, oksalat, asetat, pektat) dan garam anorganik (seperti garam fosfat, karbonat, klorida, sulfat dan nitrat). Sedangkan kandungan protein dan lemaknya adalah cenderung menurun. Protein merupakan sumber asam-asam amino yang mengandung unsur C,H,O dan N yang tidak dimiliki oleh karbohidrat atau lemak. Lemak dalam campuran pati diduga menghambat proses gelatinisasi pati. Sebagian besar lemak diabsorpsi oleh permukaan granula sehingga terbentuk lapisan lipid yang bersifat hidrofobik. Lapisan ini akan menghambat pengikatan air oleh granula pati. Untuk kadar pati yang tidak termodifikasi adalah sekira 71 %, tetapi ketika dilakukan modifikasi asam, kadar pati cenderung meningkat yaitu sekitar 80 %. Jadi hasil dari modifikasi sangat signifikan untuk mendapatkan kadar pati yang lebih tinggi.
Kemampuan daya serap air dari pati termodifikasi adalah lebih tinggi dibandingkan yang tidak termodifikasi. Tingginya daya serap air ini dihubungkan dengan kemampuan produk untuk mempertahankan tingkat kadar air terhadap kelembaban lingkungan dan peranan gugus hidrofilik pada susunan molekulnya. Air akan memasuki daerah amorf dan granula. Penyerapan adalah sekira 20 -25% dari total beratnya. Keadaan ini menyebabkan granula mengembang.
Dunia industri makanan sudah mulai melirik penggunaan pati termodifikasi ini sebagai bahan penolong bagi produk makanan tertentu. Pati termodifikasi berfungsi sebagai bahan pengisi, pengental, pengemulsi dan pemantap bagi makanan. Dengan penambahan pati termodifikasi produk makanan akan mempunyai keunggulan kualitas baik dari penampakan secara fisik, rasa, konsistensi, warna, zat gizi atau pun proses pengolahan yang lebih mudah dan cepat. Salah satu contoh penggunaan pati termodifikasi adalah sebagai bahan pengisi dalam pembuatan permen gum, memberikan sifat produk yang lebih padat.
Ubikayu (Mannihot esculenta)
Singkong atau ubi kayu berasal dari Brazil, Amerika Selatan, yang menyebar ke Asia pada awal abad ke-17 dibawa oleh pedagang Spanyol dari Mexico ke Philipina. Kemudian menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ubikayu merupakan makanan pokok di beberapa negara Afrika. Di samping sebagai bahan makanan, ubikayu juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Ubinya mengandung air sekitar 60%, pati (25-35%), protein, mineral, serat, kalsium, dan fosfat. Ubi kayu merupakan sumber energi yang lebih tinggi dibanding padi, jagung, ubi jalar, dan sorgum.
Ubikayu mengandung HCN yang terdapat di dalam umbi, dan daunnya. Untuk keperluan makanan dan pakan ternak digunakan ubi kayu yang kadar HCN-nya rendah (kurang dari 50 ppm). Sedangkan untuk bahan industri digunakan ubikayu yang berkadar HCN tinggi.
Tepung Tapioka
Tapioka adalah tepung dengan bahan baku ubi kayu atau ketela pohon dan merupakan salah satu bahan untuk keperluan industri makanan, industri farmasi, industri tekstil, industri perekat, dll. Teknologi pembuatan tapioka pada industri kecil adalah sebagai berikut :
- Pengupasan kulit dilakukan dengan tenaga manusia dengan menggunakan pisau
- Pencucian dilakukan dengan cara menyemprotkan air bersih
- Pemarutan dilakukan secara mekanis yang digerakkan dengan mesin diesel. Hasil parutan adalah bubur ketela. Pada tahap ini air ditambahkan agar pemarutan lebih lancar.
- Pemerasan dan penyaringan (pengekstrakan)
Pengekstrakan pati dilakukan dengan tangan manusia, diatas kain kasa. Dari atas dialirkan air sedikit demi sedikit menggunakan gayung yang dikerjakan dengan tenaga manusia. Pengekstrakan dilakukan secara mekanis, yaitu menggunakan saringan bergetar. Saringannya berupa kasa halus. Diatas saringan bergetar tersebut air disemprotkan melalui pipa-pipa. Untuk memberikan tekanan yang tinggi digunakan pompa yang digerakkan dengan mesin diesel.
Pengendapan pati dilakukan di dalam bak-bak pengendapan. Bak pengendapan biasanya terbuat dari kayu, pasangan batu bata yang dilapisi porselin, pasangan batu bata biasa atau beton, bahkan ada bak pengendap yang dasarnya diberi alas kaca atau kayu. Lama pengendapan yang baik adalah empat jam dan pembuangan air tidak boleh lebih dari satu jam, karena setelah lima jam sudah mulai terjadi pembusukan.
Setelah pengendapan dianggap cukup, air yang diatas dibuang sebagai limbah cair dan tepung tapioka basah diambil. Beberapa pengrajin menambah bak pengendap lagi untuk mengendapkan limbah cair sebelum dibuang. Hasil endapannya dinamakan lindur atau elot yaitu pati yang kualitasnya jelek. Cara ini dapat menekan beban pencemaran. Setelah pati diambil, diletakkan pada tampi-tampi bambu, kemudian dijemur di bawah sinar matahari.
Pati hasil pengeringan masih kasar, sehingga perlu digiling dan dilakukan penyaringan untuk menghasilkan tapioka halus. Rendemen pati biasanya berkisar antara 19% - 25%.

Pati termodifikasi
Bahan:
 Berbagai jenis pati (tepung beras, tepung ketan, tepung tapioca, tepung sagu, tepung jegung, tepung gandum)
 Air destilata, NaOH, HCl, Metanol atau etanol.

Alat:
Erlemeyer, pipet, gelas ukur, gelas piala, pH-meter atau kertas PH, penyaring vakum, oven, kertas saring.

Cara Kerja:
1. Thin Boiling Starches ( modifikasi asam )
a) Siapkan suspensi masing-masing jenis apti dengan konsentrasi 40 %
b) Panaskan pada suhu 25-55oC
c) Tambahkan HCL 15% (klp VI = 35 ml)
d) Netralkan dengan larutan soda abu
e) Saring kemudian keringkan di dalam oven
f) Bandingkan hasil modifikasi dari berbagai jenis pati dengan berbagai dosis penambahan HCl (25ml, 30ml, 35ml, 40ml, 45ml)
2. Cold Water Swelling Starches
a) Siapkan suspensi masing-masing jenis pati denga tingkat konsentrasi ( klp VI = 30%)
b) Panaskan suspensi pati tersebut hingga mencapai titik gelatinisasi (menjadi gel semua)
c) Tambahkan pelarut organic (methanol atau etanol) sejumlah sama dengan total suspensi kemudian aduk sampai rata
d) Uapkan dan keringkan dalam oven
e) Bandingkan hasil modifikasi dari berbagai jenis pati dengan berbagai tingkat konsentrasi ( 10,20,30,40,50 persen)









Pengawetan gula semut
Pembuatan gula semut memerlukan nira yang masih baik dan segar sehingga perlu diberiakn perhatian ekstra pada proses penyiapanm penyadapan dan penyadapan nira , agar dihasil kan nira yang baik dan tidak asam. Nira hasil saringan dimasak pada sushu sekitar 110 C di dalam wajan sambil ter8us diaduk. Pada saat nira mulai mendidih, kotoran aakan terapuyng bersama- sama busa ke permukaan. Kotoran dan busa ini harus dihgilangkan dari nira
Untuk menjaga agar busa tidaki meluap ke luar wajan maka sewaktu- waktu diadul dan ditambahkan minyak goreng . dipergunakan minyalk kelapa untuk mengurangi total padatan gula semut yang dihasilkan.
Pemasakan selanjutnya sampai sedikit lebih tua dari yang dugunakan untuk membuat gula cetak. Perekat nira dalam wajan selanjutnya didinginkan lebih kurang 110 menit tanpa diaduk. Setelah itu dilakukan pengadukan dengan pengaduk yang berbentuk garpu secara perlahan lahan dan setelah terjadfi kristalisasi pengadukan dipercepat hingga diperoleh gula yang berbentuk serbuk . gula yang dihasilkan dipendahkan ke wadah laain dan dibiarkan dingin. Aapaabila gulaa semut yang dihasilkan masih basah, maka dapat dilakukan penjemuran dengan sinar matahari untuk mendapatkan gula semut dengan kadar air yang sesuai. Sebaiknya dilakukan pengayakan dan dikemas dalam kantong plastik atau dalam botol gelas.


Pengawetan gula semut
Bahan:
 Nira tebu atau nira aren sebanyak 2 liter/klp
 Minyak kelapa sekitar 5 ml

Alat:
Wajan, saringan/kain saring, timbangan, kompor, pengaduk dari kayu.

Cara Kerja:
a. Nira yang diperoleh dari hasil penyadapan masih mengandung beberapa jenis kotoran, disaring dengan menggunakan kain saring atau saring
b. Nira dipanaskan dengan wajan. Jangan menggunakan api yang terlalau besar tetapi cukup untuk mendidihkan nira
c. Setalah nira mulai mendidih, bila ada buih-buih menggunpal harus diangnkat dengan menggunakan saringan
d. Nira yangn mendidih semakin lama akan menimbulkan buih yang banyak. Tambahkan satu sendaok makan minyak kelapa ataua kalapa parut untuk mencegah terbentukknya buih
e. Lakukan pengujian kemasakan nira. Ambil nira dengan pengaduk, lalu diteteskan secara berputar/ melingkjar ke dalam air, bila diperoleh benang-benang gula yang mudah putus dan keras berarti olahan nira sudah masak.
f. Olahan nira diangkat dari atas api dan dinginkan, sambil diaduk terus-menerus dengan kuat sehingga terbentuk kristal gula semut, berupa butiran-butiran halus
g. Gula semut kasar yang diperoleh, digerus dengan menggunakan alat penggerus pada wajan
h. Setelah dingin lalu diayak sehingga diperoleh gula semut yang cukup seragam

Pengamatan:
Lakukan pengamatan terhadap bahan baku nmira (ph, indeks bias, kadar gula, warna, rasa dan aroma), perubahan selama proses dan produk gula semut (Ph, indeks bias, kadar gula, warna, rasa, dan aroma).



Pembuatan gula merah
Nira mempunyai sifat mudah menjadi asam karena adanya proses fermentasi dari bakteri Saccharomyces sp. Oleh karena itu nira harus segera diolah setelah diambil dari batan pohon. Paling lambat 90 menit s/d 2 jam harus segera dikeluarkan dari bumbung. Pengolahan nira yang termudah yaitu menjadikannya gula merah atau istilah lainnya saka.
Nira dituangkan sambil disaring dengan kasa kawat yang dibuat dari bahan tembaga. Kemudian ditaruh diatas tungku perapian untuk segera dipanasi (direbus). Pemanasan ini berlangsung selama 1-3 jam tergantung dari banyaknya volume nira. Pemanasan tersebut dilakuakn sambil terus melakukan pengadukan. Buih yang terbentuk segera dikeluarklan agar tidak dhasilkan nira dengan warna yang gelap (hitam). Setelah kental kurang lebih 8% dari vol awal pemanasan dihentikan.
Cairan nira yang kental harus segera dicetak karena pabila tidak dicetak cairan tersebut akan dingin secara cepat dan mengeras. Pencetakan dilakukan biasanya dalam tempurung kelapa yang dibelah atau bambu yang telah dibuat dalam ukuran tertentu. Penuangan kepencetak dilekukan dalam dua tahap yaitu pertama 30% dan kedua 70% bagian hal ini dilakuakn agar dihasilkan gula merah yang kompak dantidak mudah pecah ketika sudah mengeras.
Gula merah banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bahan pemanis untuk masakan, makanan atau minuman tradisional seperti dawet, onde-onde, pinyaram, dll. Rasanya yang manis dan warna kecoklatan disukai dan biasa dijadikan warna untuk bahan makanan atau minuman tersebut.
Kandungan gizi gula merah dari nira aren (Nilai per 100 gram porsi makanan)
Air, 4 g
Energi, 368 kcal
Karbohidrat, 95 g
Kalsium, 75 mg
Fosfor, 35 mg
Besi, 3 mg

Pembuatan gula merah
Bahan:
Tebu, dan minyak nabati.

Alat:
Wajan, saringan, kompor, pengaduk dari kayu dan cetakan.

Cara Kerja:
1. Nira yang dihasilkan dari perasan tebu, disaring kemudian ditimbang
2. Masukkan ke dalam wajan dan panaskan untuk menguapkan airnya menggunakan api yang cukup besar, apabila cairan mulai mengental api dikecilkan dan bila berbuih atau meletup-letup tambahakan minyak goring sebanyak 1 sendok makan
3. Lakukan pemasakan nira sampai mengental sambil diaduk-aduk agar tidak hangus atau lengket pada wajan
4. Uji kemasakan nira dengan mengambil nira dengan pengaduk, lalu teteskan nira pada air dingin sambil diputar sehingga membentuk benang melingkar, bila diperoleh benang gula yang keras dan mudah dipatahkan, berarti nira sudah masal
5. Siapkan cetakan dari bambu atau tempurung kelapa yang sudah direndam dalam air
6. Setelah nira matang, wajan diangkat dari api dan nira dituangkan dalam cetakan
7. Setelah gula dalam cetakan mengeras, maka gula dapat dikeluiarkan dari cetakan
Pengamatan :
- nira : Volume, pH, warna, rasa dan aroma
- gula merah : berat gula merah, warna, rasa dan aroma


Pembuatan gula cair
Gula cair meupakan salah atu alternatif dari pengolahan nira (dari tebu, aren atau yang lainnya) yang dapat dilakukan dengan mudah. Pengolahannya sama dengan pengolahan pembuatan gula merah yaitu dengan pemanasan, tetapi tidak dilakukan sampai kental dan mengeras. Pemanasan dilakukan dengan suhu tinggi dan dihentikan sampai kadar gula 20% dari volume awal dan terbentuk sirup bening gelap yang tidak teralu kental.
Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan agar nira yang dipanaskan membentuk gula inversi sehingga keadaan cairnya bisa dipertahankan. Gula cair ini akan tahan lama dan mudah untuk digunakan sabagai pemanis dalam makanan tanpa harus melakukan pengenceran terlebih dahulu.


Pembuatan gula cair
Bahan:
Pati, NaOH 1 N, aranngf aktif dan iod.

Alat:
Erlemeyer, neraca, pipet tetes, autoclove.

Prosedur:
a. Timbang 100 g pati, tambahkan air sebanyak 300 ml,aduk rata
b. Tambahkan hcl 1 n sampai 2 – 2,5 lalu erlemeyer ditutup
c. Hidrolisis dengan autoclave selama 1 jam
d. Uji dengan iod bila pati masih positif, hidrolisis dilanjutkan
e. Bila pati sudah negative, naikkan ph larutanh dengan naoh sampai ph 4,5 – 5,0
f. Masukkan arang aktif sebanyak 1-2% dari bobot pati, lalu dipanaskan pada suhu 80oc selama 1 jam sambil diaduk
g. Saring dengan kertas saring sampai diperoleh larutan jernih
h. Kentalkan sirup di penangas air sampai diperoleh kadar bahan kering 70-80%
i. Hitung rendeman

Rabu, 23 Juni 2010

potensi limbah kulit

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Salah satu permasalahan besar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah kelangkaan energi bahan bakar yang menjadi semakin krusial karena semakin meningkatnya populasi masyarakat Indonesia. Kebutuhan energi juga digunakan untuk memenuhi sarana transportasi dan aktivitas industri selain untuk memenuhi kebutuhan aktivitas ekonomi dan sosial dalam skala rumah tangga. Semakin terbatasnya jumlah bahan bakar fosil mulai dapat dirasakan dampaknya, sebagai bentuk awalnya, jumlah minyak tanah semakin menipis. Mulai tahun 2008 Pemerintah kita melakukan konversi pemakaian minyak tanah menjadi gas elpiji untuk keperluan sehari-hari. Namun pemanfaatan gas elpijji dalam prakteknya menemui beberapa kesulitan, misalnya kendala dalam pendistribusian ke daerah-daerah. Di Surabaya, Pejabat Asisten Manajer Eksternal Relation PT Pertamina Unit Pemasaran V Eviyanti R mengatakan bahwa konversi minyak tanah ke elpiji baru mencapai 50 persen hingga 60 persen. Kekhawatiran masyarakat memakai tabung elpiji merupakan penyebab utama masyarakat enggan memakai elpiji. Pasokan elpiji seringkali terhambat padahal diharapkan dapat berperan sebagai solusi kelangkaan energi.
Pemanfaatan ini tepat digunakan dan diaplikasikan di masyarakat Indonesia sebagai solusi permasalahan kelangkaan energi yang kian marak. Kompas (19/11) menyampaikan bahwa terjadi kelangkaan akses elpiji di region II yang meliputi wilayah Jabodetabek, Kalimantan Barat, Kerawang, Purwakarta, Cianjur, Sukabumi, Banten, Bandung, Jawa Barat bagian Selatan, Cirebon, Majalaya, dan Kuningan. Di kawasan ini, permintaan elpiji mencapai 97.500 metrik ton atau sama dengan persediaan yang ada sebanyak 97.500 metrik ton. Sementara itu, stok elpiji di region III yang meliputi Jawa Tengah bagian utara, Jawa Tengah Selatan, dan Yogyakarta juga terbatas. Persediaan elpiji di sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta sebesar 22.500 metrik ton namun konsumsi yang ada hanya mencapai 21.834 metrik ton. Hal serupa terjadi pula di region IV yang meliputi Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Persediaan elpiji di daerah tersebut mencapai 39.500 metrik ton sedangkan konsumsi elpiji mencapai 25.957 metrik ton.
Kelangkaan minyak tanah yang kemudian disusul dengan sulitnya mengakses elpiji sebagai konversi minyak tanah memicu munculnya kebutuhan akan sumber energi alternatif, bahkan energi yang terbarukan. Hal ini tertera dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, yang menyatakan bahwa pemerintah mengajak kepada seluruh pihak maupun kalangan masyarakat Indonesia untuk mensukseskan pengembangan sumber energi alternatif pengganti Bahan Bakar Minyak. Sumber energi terbarukan (renewable) dibutuhkan untuk penyediaan sumber energi secara berkesinambungan (sustainable). Hal ini akan lebih baik lagi apabila berasal dari limbah, sehingga dapat menurunkan biaya produksi dan mengurangi efek negatif penumpukan limbah terhadap lingkungan.
Limbah kulit singkong adalah limbah yang berasal dari perkebunan singkong, pabrik tepung tapioka, pabrik produk olahan singkong, dan juga pabrik tape atau peuyeum di berbagai daerah di Indonesia. Produksi singkong di Indonesia sangat besar karena Indonesia termasuk sebagai negara kelima terbesar di dunia yang menghasilkan singkong (Deptan, 2005). Jumlah industri pengolahan singkong di Indonesia banyak sehingga dapat ditarik korelasi positif bahwa tingginya jumlah olahan singkong akan menghasilkan semakin banyak limbah kulit singkong. Setiap singkong dapat menghasilkan 10 – 15% limbah kulit singkong. Limbah kulit singkong dalam jumlah besar ini dapat menyebabkan penumpukkan yang berakibat pada perusakan lingkungan (Nduponipop, 2008).
Jumlah kulit singkong yang berada dalam jumlah masif ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi terbarukan yang ramah lingkungan, karena berperan sebagai sumber energi terbarukan, pemanfaatan limbah kulit ubi kayu yang dapat berdampak negatif pada lingkungan serta memberikan nilai tambah pada limbah. Selain itu, limbah kulit singkong berpotensi untuk menjadi sumber energi terbarukan karena perannya sebagai limbah biomassa yang dapat diolah menjadi biobriket sebagai alternatif bahan bakar.

1.2. Perumusan Masalah
Kasus kelangkaan energi menunjukkan diperlukannya solusi berupa bahan bakar alternatif, yang tidak hanya bersifat terbarukan namun juga aplikatif di masyarakat. Limbah biomassa yang dipilih terdapat dalam jumlah melimpah di Indonesia dan tidak termanfaatkan dengan optimal, yaitu limbah kulit singkong. Pemanfaatan menjadi bahan bakar alternatif terbarukan ini juga memberikan dampak positif lainnya, yaitu pengurangan efek negatif limbah kulit singkong terhadap lingkungan serta memberikan nilai tambah bagi produk limbah itu sendiri.

1.3. Tujuan
Tujuan dari karya tulis ini adalah menemukan alternatif bahan bakar baru selain bahan bakar fosil, mengurangi jumlah limbah kulit singkong, memberikan nilai tambah pada limbah kulit singkong, dan menjadi suatu wujud solusi permasalahan kelangkaan energi di Indonesia melalui biobriket.

1.4. Kegunaan
Kegunaan dari program ini adalah memberikan suatu solusi terhadap permasalahan kelangkaan energi di Indonesia melalui bentuk biobriket dari limbah kulit singkong yang terdapat dalam jumlah masif di Indonesia, sehingga dapat menjadi suatu wujud penyelesaian masalah suplai energi di masyarakat, salah satu alternatif wujud pengabdian masyarakat oleh industri (CSR atau corporate social responsibility), serta rujukan program yang dapat didukung oleh Pemerintah.







2. TELAAH PUSTAKA

2.1. Limbah Kulit Singkong
Ubi kayu merupakan tanaman yang banyak terdapat di Indonesia. Ubi kayu dikenal di Indonesia dengan nama lain ketela pohon atau singkong (Gambar 1(a).). Ubi kayu memiliki nama botani Manihot esculenta Crantz tapi lebih dikenal dengan nama lain Manihot utilissima. Tanaman ubi kayu termasuk ke dalam kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, famili Euphorbiaceae, genus Manihot dengan spesies esculenta Crantz dengan berbagai varietas (Rukmana, 1997).
Laporan United Nation Industrial Development Organizatin (UNIDO) menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil ubi kayu terbesar kedua di Asia setelah Thailand, sementara di dunia menempati urutan kelima setelah Nigeria, Brazil, Thailand, dan Kongo (Deptan, 2005). Tabel 1. menunjukkan produksi hasil pertanian sekunder di Indonesia pada tahun 2004-2008 dalam satuan ton.
Tabel 1. Produksi hasil pertanian sekunder di Indonesia (Ton)( BPS, 2008)
Tahun Jagung Kedelai Singkong Ubi jalar
2004 11.225.243 723.483 19.424.707 1.901.802
2005 12.523.894 808.353 19.321.183 1.856.969
2006 11.609.463 747.611 19.986.640 1.854.238
2007 13.287.527 592.534 19.988.058 1.886.852
2008 16.323.922 776.491 21.593.053 1.876.944

Umumnya, ubi kayu atau yang lebih dikenal dengan singkong ini dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pangan, misalnya untuk keripik, singkong goreng, industri tape dan industri tapioka. Dari seluruh pemanfaatan tersebut, terdapat limbah padat yang dihasilkan, yaitu onggok dari industri tapioka dan kulit singkong dari semua jenis penggunaan.
Selama ini, kulit ubi kayu masih jarang dimanfaatkan secara optimal. Menurut Grace (1977), kulit ubi kayu pada umumnya hanya digunakan sebgai makanan ternak dan sebgai makanan ringan seperti keripik (dengan cara digoreng). Kulit ubi kayu dengan mudah dapat dipisahkan dari umbinya dengan ketebalan 2-3 mm (Gambar 1(b).). Menurut Grace (1977), persentase kulit ubi kayu yang dihasilkan berkisar antara 8-15% dari berat umbi yang dikupas, dengan kandungan karbohidrat sekitar 50% dari kandungan karbohidrat bagian umbinya. Menurut Henie (2008), kulit singkong memiliki rataan nilai kadar air sebesar 10.06-13.14%, rataan nilai daya serap air berkisar 82.49%-169.78%, rataan nilai pengembangan tebal sekitar 35.70-102.30%, dan rataan nilai kerapatannya berkisar 0.86-0.87g/cm3.

Gambar 1. (a) Singkong (b) Kulit singkong.
Kulit ubi kayu mempunyai komposisi yang terdiri dari karbohidrat dan serat. Menurut Djaeni (1989), kulit ubi kayu mengandung ikatan glikosida sianogenik yaitu suatu ikatan organik yang dapat menghasilkan racun dalam jumlah 0.1% yang dikenal sebagai racun biru (linamarin). Oleh karena itu, pemanfaatann kulit ubi kayu belum terlalu luas. Namun sebenarnya racun tersebut dapat dihilangkan dengan cara menguapkannya atau mengeringkannya pada suhu tinggi.

2.2. Biobriket dan Teknologi Biobriket
Biobriket adalah briket yang dibuat dari bahan biomassa atau limbah biomassa. Biobriket banyak diterapkan di negara-negara asia bagian selatan seperti Indonesia, India,dan Thailand (Bhattacharya et al., 1985). Briket merupakan suatu hasil pemanfaatan biomassa dengan metode densifikasi atau pengempaan (Lab. Energi dan Elektrifikasi Pertanian IPB, 2008). Hasil densifikasi akan menghasilkan bentuk yang lebih teratur dan padat. Proses densifikasi dalam pembuatan briket dilakukan dengan cara memadatkan bahan menjadi datu kesatuan sehingga lebih mudah dalam penanganannya. Metoda penanganan pada bahan dasar yang akan dibuat briket biasanya dilakukan pada jenis bahan yang berukuran kecil serta dalam jumlah yang melimpah. Selain itu, biomassa atau limbah biomassa yang digunakan sebagai bahan dasar briket pada umumnya mempunyai bentuk serbuk atau berbentuk curah sehingga penanganan maupun penggunaannya sebagai bahan bakar kurang efisien. Penanganan untuk menghasilkan briket yang berasal dari bahan yang tidak berukuran kecil memerlukan proses pengecilan bahan terlebih dahulu. Hal ini ditujukan agar diperoleh ukuran yang seragam serta efisiensi dalam proses pengempaan. Pada gambar berikut ini dapat dilihat tahapan pembuatan biobriket secara manual (Gambar 2.).









Gambar 2. Bagan alir lengkap pembuatan biobriket.
Pembuatan briket dengan cara pengempaan ini dapat dilakukan dengan alat kempa sederhana dan dapat dioperasikan secara manual. Alat kempa dapat dilihat pada Gambar 3 (a). Dalam proses pengempaan, umumnya digunakan perekat yang terbuat dari tapioka. Menurut Rustini (2004), penggunaan perekat tapioka ini menimbulkan asap yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan perekat lainnya. Kadar perekat yang digunakan tidak lebih dari 5% karena dapat menurunkan mutu briket karena sifatnya yang menaikkan kelembapan briket. Setelah direkatkan, briket diarangkan dengan proses yang disebut pirolisis.
Pirolisis merupakan proses penguraian biomassa karena panas (Hayati et al., 2008). Pirolisis dapat berlangsung melalui panas yang dihasilkan yaitu pada suhu lebih dari 150o. Pirolisis mempunyai manfaat untuk meningkatkan nilai kalor, memgurangi asap saat pembakaran, menurunkan kadar air dan mempermudah pemyimpanan dan pendistribusian. Berdasarkan tingkatan proses pirolisa yang dilakukan, proses pirolisa dapat digolongkan menjadi pirolisa primer dan pirolisa sekunder. Pirolisa primer adalah proses yang terjadi secara langsung terhadap bahan bakunya. Pirolisa sekunder adalah proses yang terjadi pada bahan partikel yang merupakan kelanjutan dari hasil gas atau uap sebagai hasil dari pirolisa primer. Pirolisis juga dapat diartikan sebagai proses penguraian panas tanpa melibatkan gas oksigen dari udara secara langsung. Hasil pirolisis dikenal sebagai arang. Setelah diarangkan, briket harus mengalami pengeringan. Kegiatan pengeringan dilakukan untuk mengurangi kadar air. Tangki pirolisis dapat dilihat pada Gambar 3(b).

Gambar 3. (a) Alat kempa manual (b) Alat pyrolysis
(Lab. Energi dan Elektrifikasi Pertanian IPB, 2008).
Pembuatan biobriket dapat menghasilkan produk biobriket dengan berbagai hasil. Perbedaan ini terlihat dari jenis bahan baku, kadar air bahan baku (Yaman et al., 2001), kekuatan tekanan dalam pemgempaan (Ooi dan Shiddiqui, 1999). Semakin tinggi kadar air, kekuaran dari biobriket semakin lemah (Tabel 2.). Semakin tinggi tekanan yang diberikan,maka kekuatan dari briket akan semakin besar dan nilai kalor serta densitas juga bertambah (Gambar 4 (a).), namun laju pembakaran berkurang (Gambar 4 (b).).

Tabel 2. Hubungan kadar air dan kekuatan biobriket (Yaman et al., 2001)


Gambar 4. (a) Hubungan tekanan dan densitas (b) Hubungan tekanan dan laju pembakaran (Ooi dan Shiddiqui, 1999).







3. METODE PENULISAN

3.1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan pengkajian bahan-bahan bacaan dalam buku, skripsi, jurnal, jurnal elektronik, dan literatur-literatur lainnya yang berkaitan dengan kelangkaan energi di Indonesia, biobriket, teknologi proses pembuatan biobriket, biomassa dan limbah biomassa untuk mempermudah dalam memahami permasalahan yang diungkapkan dalam karya ilmiah ini.

3.2. Pengolahan Data
Melalui bahan-bahan bacaan di atas, dilakukan pengkajian, penyeleksian, dan pencarian solusi atas masalah yang dihadapi, serta penarikan kesimpulan, sehingga kesimpulan akhir yang didapat relevan dengan masalah di lapangan.

3.3. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kedua hal diatas, maka kerangka pemikiran dikembangkan dengan menyadari pentingnya energi alternatif yang bersifat terbarukan, menganalisis adanya potensi dari limbah kulit singkong, kemudian dilakukan kajian sifat-sifat biobriket sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan dan aplikatif di masyarakat. Selanjutnya, dilakukan penyeleksian berbagai bahan dan metode pembuatan biobriket yang lebih murah dan efisien kemudian dilanjutkan dengan pengkajian terhadap limbah kulit ubi kayu sebagai bahan baku karena memiliki syarat-syarat yang sesuai.








4. ANALISIS DAN SINTESIS

4.1. Potensi Biobriket sebagai Solusi Kelangkaan Energi
Biobriket umumnya digunakan untuk kebutuhan kalor dalam memasak. Bahan lain yang biasanya digunakan adalah batu bara, minyak tanah serta gas elpiji. Peluang pasar dari biobriket cukup menjanjikan, khususnya jika dilihat dari beberapa aspek seperti harga BBM yang tinggi, pengurangan suplai BBM khususnya minyak tanah yang merupakan produk impor, briket Batubara mempunyai beberapa kelemahan, dan sulitnya distribusi gas elpiji khusunya bagi masyarakat di daerah pinggiran kota (Suyitno, 2008 dan Kompas 19/11)
Biobriket dapat dikatakan lebih unggul daripada briket batubara karena briket biomasa relatif lebih mudah dinyalakan daripada briket batubara akibat titik lelehnya yang rendah. Bau yang dikeluarkan dari pembakaran biobriket juga tidak terlalu menyengat sebagaimana bau yang dikeluarkan selama pembakaran batubara. Memang kandungan kalor dari biomasa yang lebih rendah menyebabkan jumlah briket yang diperlukan untuk keperluan yang sama relatif lebih banyak dibanding batubara dan minyak tanah, namun dengan teknik karbonisasi, nilai kalor dari briket biomasa dapat ditingkatkan lagi. Jika dilihat dari aspek polusinya, biobriket jauh lebih rendah polusinya dibandingkan polusi dari pembakaran batubara karena biobriket mempunyai kadar sulfur yang kurang dari 1% (Anonim, 2008). Dari sejumlah pengalaman terlihat bahwa dengan menggunakan biobriket yang nilai kalornya setara dengan 0,76 liter minyak tanah akan terjadi penghematan biaya bahan bakar sebesar 40-56% dengan asumsi harga minyak tanah Rp. 3.500.liter (Anonim, 2008).
Biobriket merupakan peluang yang baik dalam menjadi solusi permasalahan kelangkaan energi bagi rumah tangga karena harga yang relatif murah, nilai kalor yang dapat bersaing, lebih mudah dalam penyalaan, tidak menghasilkan bau saat digunakan, kandungan sulfur rendah sehingga tidak berbahaya bagi kesehatan, bahan baku melimpah, masyarakat sudah familiar dengan biobriket khususnya briket yang berasal dari kayu dan mudah untuk dihasilkan sendiri oleh masyarakat karena tidak memerlukan teknologi yang tinggi sehingga masyarakat tidak tergantung dari daerah maupun negara lain dalam pemenuhan kebutuhannya.

4.2. Potensi Kulit Singkong sebagai Bahan Baku Biobriket
Ubi kayu yang juga dikenal sebagai singkong merupakan tanaman yang banyak diperoleh di Indonesia. Indonesia memanfaatkan ubi kayu sebagai makanan (singkong goreng, tape, keripik singkong) dan bahan baku pembuatan produk-produk hasil fermentasi seperti asam asetat, bio-etanol, poly-lactic acid untuk biodegradable plastic. Umumnya, pembuatan produk-produk tersebut hanya memanfaatkan isi atau bagian dalam dari ubi kayu tersebut dan tidak memanfaatkan kulitnya. Pemanfaatan kulit ubi kayu sebagai produk makanan juga sulit untuk diterapkan karena kandungan sianida produk yang tinggi. Sianida adalah komponen yang terdapat pada ubi kayu yang dapat bersifat toksik bagi tubuh dan sehingga tidak baik untuk dikonsumsi jika berada dalam konsentrasi yang tinggi (Sugiono, 2007)
Ketersediaan ubi kayu juga banyak di Indonesia. Laporan United Nation Industrial Development Organizatin (UNIDO) menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil ubi kayu terbesar kedua di Asia setelah Thailand, sementara di dunia menempati urutan kelima setelah Nigeria, Brazil, Thailand, dan Kongo (Deptan, 2005). Produksi ubi kayu di Indonesia juga meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008, produksi ubi kayu telah mencapai lebih dari dua puluh juta ton dan merupakan produk pertanian sekunder yang paling tinggi produksinya (BPS, 2008).
Umumnya, pembeli ubi kayu hanya memanfaatkan bagian dalam dari ubi kayu sehingga hampir semua kulit ubi kayu dibuang. Kulit ubi kayu mempunyai berat sebesar 10-15% dari total berat ubi kayu (Hayati el al., 2008) Berdasarkan perhitungan, jumlah ubi kayu pada triwulan kedua dapat menghasilkan sekitar 21.593.053 ton. Angka ini merupakan angka yang sangat besar dan mempunyai potensi yang besar jika dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berdayaguna tinggi.
Proses pembuatan biobriket dengan adanya proses pembentukkan arang dapat menghasilkan rendemen sebesar 20-30% (Bhattacharya et al., 1985). Berdasarkan perhitungan maka kulit ubi kayu ini dapat menghasilkan produk biobriket sebesar 674.783 ton di Indonesia.

4.3. Prospek Biobriket dari Kulit Singkong

4.3.1. Bidang Ekonomi
Dengan biobriket yang nilai kalornya sekitar setengah dari nilai kalor 1 liter minyak tanah dengan harga jual sekitar Rp 1000 akan terjadi penghematan biaya bahan bakar sebesar Rp. 1.340/hari bagi yang menggunanakan minyak tanah dan Rp 840/hari bagi yang menggunakan batu bara (Tabel 3.). Dengan data ini memperlihatkan bahwa briket biomasa secara harga akan mampu bersaing dengan batubara dan minyak tanah.
Tabel 3. Penghematan menggunakan biobriket
Parameter Minyak Tanah Briket
batu bara Biobriket kulit singkong
Nilai Kalori 10.000 kkal/ltr 5400 kkal/kg 4.600 kkal/kg
Ekivalen 1 ltr 1,85 kg 2,16 kg
Biaya Rp. 3500 Rp. 2500 Rp. 1.000
Total Rp. 3500 Rp. 3.000 Rp. 2160

Pemanfaatan limbah kulit singkong dapat mengurangi biaya penanganan limbah yang wajib dilakukan oleh industri yang memanfaatkan singkong sebagai bahan baku sesuai dengan AMDAL yang diatur dalam SK Mentri KLH No. 03 tahun 1991 tentang penanganan limbah. Dengan pemanfaatan limbah ini, tidak hanya pemberian nilai tambah pada limbah tetapi juga dapat menghasilkan sebuah industri briket di dekat industri tapioka yang dapat mengurangi angka penggangguran, menghasilkan omset sekitar setengah triliun per tahun dan sekaligus dapat mengurangi limbah.

4.3.2. Bidang Lingkungan
Penggunaan biomassa sebagai bahan baku energi lebih ramah lingkungan karena emisi CO2 hasil pembakaran akan terserap lagi oleh tanaman yang merupakan bahan baku energi tersebut untuk melakukan fotosintesis yang disebut juga sebagai zero net CO2 emission (Gonzales et al., 2008). Hal ini juga merupakan faktor yang mendukung pengembangan sumber energi alternatif yang berasal dari bahan biomassa. Biobriket kulit singkong menghasilkan emisi CO2 yang lebih rendah dibandingkan dengan batubara dan tidak menghasilkan emisi berupa zat-zat kimia (Theodore et al. 1980)
Selain itu, penggunaan limbah kulit singkong dapat mencegah penumpukkan limbah disekitar industri yang memanfaatkan singkong sebagai bahan bakunya. Limbah kulit singkong tidak baik bagi lingkungan karena kandungan sianida (toksik) yang tinggi sehinga dapat mencemari tanah (Nduponipop, 2008). Paparan sianida dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan otak, hati, bahkan koma dan kematian dalam jangka waktu yang pendek. Namun, sianida ini dapat rusak oleh panas, sehingga dalam pemanfaatan limbah kulit singkong, digunakan proses pemanasan (Nduponipop,2008). Pemanfaatan kulit singkong juga jarang digunakan, sehingga banyak menumpuk di beberapa tempat khusunya disekitar industri pembuatan tepung tapioka (pati singkong).

4.3.3. Bidang Energi
Energi yang dihasilkan dari kulit singkong yaitu 4631,1 kalori/gram pada briket kulit luar yang telah dipirolisiis, sedangkan pada briket tanpa pirolisis menghasilkan energi 4442,68 kalori/gram (Hayati el al., 2008). Hal ini disebabkan semakin banyak karbon per gram yang terdapat pada briket dengan pirolisis. Rendemen produk yang dihasilkan dari total berat kulit singkong adalah 20-30% (Bhattacharya et al., 1985 ). Berdasarkan perhitungan, hasil briket yang dapat diperoleh di Indonesia adalah sebesar 675.835 ton. Angka ini merupakan jumlah yang besar yang dapat memenuhi kebutuhan kalori untuk memasak pada rumah tangga. Jika diasumsikan setiap rumah tangga membutuhkan 1 liter per hari maka dengan biobriket dapat memenuhi kebutuhan 616.240 rumah tangga dalam satu tahun.
Perhitungan dimulai dengan memperkirakan nilai kalor minyak tanah adalah 10.000 kkal/liter dengan effisiensi kompor sebesar 20-40% sehingga akan dihasilkan energi riil sebesar 40% x (1 liter x 10.000) = 4000 kkal/hari. Jika dibandingkan dengan niali kalor briket sebesar 4631 kkal/kg dengan effisiensi kompor : 30-40%, sehingga dapat menghasilkan energi riil sebesar 100/30 x 4000 kkal/hari = 13.333,33 kkal/hari. Maka briket yang dibutuhkan perhari supaya dapat memenuhi kebutuhan energi harian adalah 13.333,33 kkal/hari : 4631 kkal/kg = 2,87 kg/hari. jika dibandingkan dengan total produksi briket maka total produksi briket dapat memenuhi kebutuhan (674.783000/(3 x 365)) = 616.240 rumah tangga.
Selain itu, biobriket dari kulit singkong juga mempunyai nilai kalori yang lumayan tinggi jika dibandingkan dengan biobriket lainnya (Tabel 4.). Tabel tersebut menunjukkan bahwa briket dari kulit singkong mempunyai nilai kalor yang dapat bersaing dengan briket lainnya.
Tabel 4. Perbandingan nilai kalori biobriket
(Bhattacharya et al., 1985 dan Hayati et al., 2008)
No. Bahan Nilai Kalori (kkal/kg)
1. Briket dari serbuk gergaji 4820
2. Briket dari sekam 3900
3. Kayu bakau 4390
4. Briket dari kulit singkong 4631


5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Kulit ubi kayu mempunyai potensi dan prospek yang cerah sebagai sumber energi alternatif di Indonesia karena ketersediaanya yang tinggi dan mempunyai niali kalor yang dapat bersaing dengan biomassa laiinya. Selain itu briket dari kulit ubi kayu ini juga mempunyai prospek yang cerah pada bidang lingkungan karena tidak menghasilkan banyak polusi udara dan tanah, ekonomi karena harga yang lebih murah dan ketersediaan energinya sehingga dapat bersaing dengan bahan baku alternatif lainnya.

5.2. Saran
Saran-saran yang diberikan untuk perkembangan pembuatan biobriket dari kulit singkong adalah :
• Dibutuhkan sosialisasi dari potensi briket yang berasal dari ubi kayu
• Perlunya peran pemerintah dan industri pengolah ubi kayu dalam melancarkan pembuatan dan penerapan biobriket dari kulit singkong
• Penelitian lebih lanjut untuk menghasilkan briket dengan karakteristik yang lebih baik seperti niali kalor yang tinggi, polusi rendah dan laju pembakaran tinggi
• Kerjasama berbagai pihat seperti pemerintah, industri pengolah ubi kayu, industri pembuatan asap cair dan masyarakat untuk mendukung terbentuknya industri biobriket dari kulit ubi kayu








DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Biobriket, Briket Ramah Lingkungan. www.briket.co.cc [20 Desember 2008].

Badan Pusat Statistik. 2008. Data jumlah produksi hasil pertanian sekunder di Indonesia. www.bps.go.id. [1 Oktober 2008].

Bhattacharya, S.C., R. Bhatia, M.N. Islam, dan N. Shah. 1985. Densified Biomass in Thailand: Potential, Status and Problems. Biomass 8: 255-266.

Deptan. 2005. Database Pemasaran Internasional Ubi Kayu. Departemen Pertanian. Jakarta.

Djaeni, A. 1987. Ilmu Gizi Jilid 2. Penerbit Dian Rakyat. Jakarta.

González, J. F., S Román, J. M. Encinar, dan G. Martínez. 2008. Pyrolysis of various biomass residues and char utilization for the production of activated carbons Journal of Analytical and Applied Pyrolysis, doi:10.1016.

Grace, M. R. 1977. Cassava Processing: Food and Agriculture Organization. Henniiee. Roma.

Hayati, R., Wina Faradina, Irawan, Pengki, dan Andhini. 2008. Pembuatan dan Analisis Nilai Kalor Briket Kulit Singkong. Fateta IPB. Bogor.

Kompas. 19 November, 2008. Kelangkaan Energi Malanda Sejumlah Daerah di Indonesia, Kompas, hlm. 1.

Laboratorium Energi dan Elektrifikasi Pertanian IPB. 2008. Petunjuk Pengoperasian Pengempa Briket Manual. Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Bogor.

Nduponipop. 2008. Sianida. www.toxichemical.com. [26 Desember 2008].

Ooi Chin Chin dan Kamal M Siddiqui. 2000. Characteristics of some biomass briquettes prepared under modest die pressures. Biomass and Bioenergy 18:223±228.

Rukmana, R.H. 1997. Ubi Kayu, Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.

Rustini. 2004. Pembuatan Briket Arang dari Serbuk Gergajian Kayu Pinus (Pinus merkusii Jungh. Et de Vr.) dengan Penambahan Tempurung Kelapa. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Sugiyono. 2007. Penuntun Kuliah Karakteristik Bahan Pangan. Departemen ITP IPB. Bogor.

Suyitno. 2008. Pemanfaatan Briket UNS di Masyarakat. www.ristek.com [26 Desember 2008].

Theodore, L. dan A.J. Buonicore, 1980. Energy and Environment Interactions—Perspectives on Energy and the Environment Part A, vol. 1, CRC Press, Boca Raton.

Yaman, S., Sahan, M., Haykiri-Ac¸ma, H., S¸es¸en,,dan KS. Ku¨c¸u¨kbayrak. 2008. Fuel briquettes from biomass–lignite blends. Fuel Processing Technology 72: 1–8.




















RIWAYAT HIDUP

Ketua Pelaksana
Nama : Yusi Stephanie Surya
NIM : F24050438
Fakultas/Dept/Semester : Teknologi Pertanian/Teknologi Pangan/7
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 17 Februari 1987
Alamat Asal : Jl. Menara IV blok 150/37, Meruya selatan. Jakarta
Alamat Bogor : Jl. Perwira No.9 Dramaga, Bogor
No. Handphone :08170784472
Alamat E-Mail : ucee_hikari@yahoo.com
Riwayat Pendidikan :
1. SD Notre Dame, Jakarta Barat
2. SLTPK IPEKA Tomang
3. SMUK IPEKA Tomang
4. Ilmu dan Teknologi Pangan , Fateta IPB
Pengalaman Organisasi :
1. Pengurus OSIS SLTPK IPEKA Tomang
2. Pantia Kata PMK 2006
3. Pengurus Komisi Kesenian UKM PMK IPB
4. Koordinator bidang pemerhati Komisi Pemerhati UKM PMK IPB
Karya ilmiah yang pernah dibuat :
1. Pembuatan Cookies Ubi Jalar sebagai Pangan Kaya Antioksidan
Prestasi yang pernah diraih :
1. Juara 3 lomba poster PUGS Pedoman Umum Gizi Seimbang

Anggota Pelaksana
Nama Lengkap : Diana Lo
Tempat / Tanggal Lahir : Riau/ 9 Maret 1988
NIM : F24050372
Alamat Rumah : Jln. Terusan Bandengan Utara No. 17 C. Jakarta Utara
Alamat Bogor : Jl. Perwira No. 9. Dramaga, Bogor
No.HP : 081932622606
Email : dione_lovincie@yahoo.com
Riwayat Pendidikan :
1. SD Mojopahit (1993-1999)
2. SLTP Chandra Kusuma (1999-2002)
3. SMA Kristen Yusuf (2002-2005)
4. Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fateta (2005-sekarang)
Pengalaman Organisasi :
1. Ketua Osis SLTP Mojopahit (2000-2001)
2. Wakil Koordinator Bidang Pembinaan Komisi Pelayanan Khusus UKM PMK IPB (2007-2008)
3. Koordinator Exchange Program IAAS LC IPB (2008-2009)
4. Anggota Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan (2006- sekarang)
Karya Ilmiah yang pernah dibuat :
1. Food or Fuel
2. Efek Perubahan pH dan Logam terhadap Pigmen Warna Curcuminoid pada Kunyit
3. Perspektif Pemanfaatan Limbah Cair Tahu dan Penggunaan Ubi Kayu dalam Pembuatan Plastik Biodegradable Ramah Lingkungan
4. Potensi Pegagan sebagai Braintonic
5. Potensi Limbah Kulit Singkong Dalam Produksi Biobriket Sebagai Solusi Permasalahan Kelangkaan Energi di Indonesia
Prestasi yang pernah diraih :
1. Juara 3 lomba debat Bahasa Mandarin (2007) dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XX
2. “Unggulan Aktivis” Scholarship (2008) untuk pertukaran pelajar ke University Malaysia Sabah.
3. Juara 1 lomba Kompetisi Inovasi Agroteknologi
4. Juara 1 lomba IAAS Olympic
5. Juara 1 lomba recycle PIKNAS
6. Finalis National Student Paper Competition

Anggota Pelaksana
Nama Lengkap : Hanifah Dwiyani
Tempat / Tanggal Lahir : Semarang, 1 Agustus 1989
NIM : I14070045
Alamat rumah : Jl Gurita VI no 9 Sebantengan, Ungaran
Alamat Bogor : Jl Balio no.14 Darmaga ,Bogor
No.HP : 085695642721
Email : chunhyang39@yahoo.com
Riwayat Pendidikan :
1. TK Teladan Ungaran (1993-1995)
2. SDN 02 Ungaran (1995-2001)
3. SMPN 01 Ungaran (2001-2004)
4. SMAN 01 Ungaran (2004-2007)
5. S1, Departemen Gizi Masyarakat IPB (2007-sekarang)
Pengalaman Organisasi :
1. Sekretaris I Peleton Inti (Paskibra) SMAN 1 Ungaran (2005-2007)
2. Anggota Divisi Exchange Program IAAS ( International Assosiation of Student in Agricultural and Related Sciences) (2007-2008)
3. Anggota PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) majalah Emulsi (2008)
4. Bendahara II OMDA Patra Atlas Semarang (2007)
5. Kordinator Divisi Exchange Program IAAS (2008-sekarang)
Karya Ilmiah yang pernah dibuat :
Potensi Pegagan sebagai Braintonic
Prestasi yang pernah diraih :
1. Juara Harapan Dua Lomba Formasi Paskibra se-Jawa Tengah
2. Finalis Lomba Jawara Politik se-IPB